6.26.2013

Family Potrait

       Keluarga pastilah sesuatu yang sangat berharga bagi setiap jiwa. Mengutip lirik serial Keluarga Cemara bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara yang paling indah adalah keluarga dan puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Hal yang selalu membuat iri ketika berkunjung ke rumah orang lain adalah figura foto keluarga. Hampir setiap rumah yang pernah saya kunjungi terpampang foto keluarga di ruang tamu atau ruang keluarga mereka. Ukurannya pun beragam dari yang kecil sampai yang hampir memenuhi bagian dinding rumah.
       Seringkali saya meminta kepada orangtua bahwa ketika saya mendapat kesempatan libur pulang ke rumah keinginan ini dapat terealisasi. Maklum saya menyadari cukup sulit bagi saya sendiri untuk dapat berkumpul di rumah. Mengingat saya kuliah di Bogor dan rumah di Palembang. Tapi sampai detik ini (waktu saya memposting) keinginan itu belum terealisasi dengan sempurna. Saya sadar bahwa kondisi "merantau" cukup menyita kebersamaan bersama keluarga dan dokumentasi bersama mereka. Well, It's okey, that's my choice hehe.
         Belum terealisasi sempurna. Mengapa saya menuliskan demikian? Yap, sebetulnya kami sudah pernah mencoba mengabadikan foto bersama. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Bapak mencoba mengambil gambar keluarga untuk dikirimkan kepada Mbah Putri di Jawa untuk mengobati kangen si Mbah. Ketika itu belum ada kamera digital atau kamera yang menyediakan aplikasi "timer". Yang ada hanyalah kamera Fujifilm dengan roll film yang kalo salah foto roll bisa terbakar. Akhirnya dengan terpaksa pengambilan gambar dilakukan bergantian oleh salah satu anggota keluarga. Tau kan apa akibatnya, akibatnya adalah foto pun jadi tidak lengkap. Semua foto pasti ada yang miss satu anggota keluarga haha. 
       Lalu saya selalu menargetkan untuk merealisasikan keinginan tersebut pada saat hari raya. Ya, ini adalah kesempatan dimana seluruh anggota keluarga berkumpul. Modal kamera yang cukup canggih sudah dipenuhi. Namun ada saja halangannya. Jadi hampir setiap selesai sholat ied, Bapak selalu berkunjung ke rumah salah satu kerabatnya bersama dengan temannya. Pulang-pulang, yang di rumah pasti sudah bersiap-siap untuk silahturahmi ke rumah keluarga lainnya. Gagal maning.
       Nah pada akhirnya, aak (panggilan untuk kakak tertua) merencanakan sebuah ide yang cukup brilian. Dia berniat untuk menghadiahi karikatur keluarga kepada Ibu dan Bapak saat ulang tahun pernikahan mereka. Awalnya saya berfikir, bagaimana bisa jika foto keluarga (untuk dijadikan contohnya) saja tidak ada. Dengan segala niat dan kekreatifan aak dan sang aimator akhirnya muncullah ide dimana kami semua harus mengumpulkan self potrait yang nantinya akan digabungkan ke dalam karikatur keluarga. Pertengahan Juni lalu akhirnya karikatur tersebut selesai di kerjakan. Saya menilai hasilnya juga cukup bagus dan mendapat banyak tanggapan positif dari teman-teman. Alhamdulillah walaupun bagi saya ini belumlah sesuai dengan harapan saya tapi setidaknya sudah terealisasi. Target must go on, liburan bulan depan saya tetap menargetkan untuk benar-benar merealisasikan keinginan tersebut secara sempurna. Ada banyak moment besar yang saya lirik yang bisa saya manfaatkan yaitu Hari Raya Idul Fitri, Wedding Anniv Bapak dan Ibu, serta My sister's Graduation. Ya Allah semoga keinginan ini benar-benar terwujud.
*Gambar ada di postingan sebelumnya

6.25.2013

Berkisah

     Well jodoh itu rahasia Ilahi. Siapa pun tidak tahu siapakah yang akan menjadi pasangannya kelak. Banyak orang-orang yang telah mengalami keunikan dalam bertemu dengan jodohnya masing-masing. Ada yang dengan teman kecilnya, musuhnya saat di sekolah, bahkan orang yang baru dikenalnya beberapa hari dan masih banyak kisah lainnya. Namun, banyak juga orang yang bertemu dengan jodoh yang tidak disangka-sangka. Semuanya pasti sudah tertulis di dalam lauhul mahfudz
       Ada seorang teman yang sampai saat ini masih berharap untuk dapat bertemu dengan teman kecilnya. Mereka tidak pernah bertemu selama 12 tahun sejak salah satu dari mereka harus pindah ke luar kota mengikuti kerjaan orangtua. Untunglah kecanggihan teknologi mengobati sedikit kerinduan teman saya ini. Dia sengaja mencari akun media sosial teman kecilnya tersebut mulai dari friendster, facebook, blog, pin bb, nomor hp dan yang terakhir adalah twitter. Komunikasi pun terjalin seadanya, karena teman saya sendiri bingung mau membicarakan soal apa, canggung dan akhirnya berakhir begitu saja. 
       Salutnya saya terhadap teman saya ini adalah hingga detik saya menulis postingan ini, dia tetap menjaga hatinya sekuat tenaga. Kata-kata move on sepertinya berlalu begitu saja, hanya numpang lewat. Berbagai cara dan ratusan kejadian yang ia alami terkait masalah hati tetap tidak dapat menggoyahkan pertahanan hatinya ini. Ia mengatakan selalu saja terfikir dengan teman kecilnya itu dan ujung-ujungnya gagal move on. Saat tahu bahwa teman kecilnya ini baru meresmikan hubungan dengan teman kampusnya, teman saya justru menanggapi dengan bijaksana. Dia tak ambil pusing, yang penting hati tetap dijaga baik-baik untuk mempersiapkan pertemuan mereka suatu saat. 
       Saya mendoakan semoga kegigihannya dalam menjaga perasaan selama lebih dari sewindu berbuah manis. Keinginannya hanya satu terhadap teman kecilnya, dapat bertemu walaupun sekali dan sebentar. Ia sangat yakin dengan sebuah quote yang menyebutkan bahwa Mencintai dalam diam itu adalah doa _anonymous_. Insyallah usaha dan kesabarannya akan dibalas oleh Allah SWT. Semoga mereka dipertemukan kembali.

Teruntuk Kejora (samaran teman kecil teman saya) semoga kau juga menjaga hatimu untuknya. Jika kalian berjodoh pastilah Allah akan mempertemukan kalian kembali dengan proses yang sangat indah. Insyallah. 

6.24.2013

Bahagia itu Sesederhana Mendapat SMS Ini


SMS Abang Kiki (atas) dan Ibunda Rehan (bawah)
       Selalu ada kebahagiaan ketika melihat perkembangan sepupu dan keponakan laki-laki yang ini. Rehanda  (Rehan) dan Rizki (Abang Kiki). Saat ini keduanya naik ke kelas 5. Alhamdulillah keduanya dapet peringkat 10 besar di kelas mereka masing-masing. Rehan, sepupu keturunan Jawa yang rajin mengaji. Walaupun harus menempuh jarak puluhan kilometer dan hujan sekalipun Ia akan tetap bersemangat untuk pergi mengaji di kampung sebelah di malam hari. Kesulitan yang ia hadapi adalah pelajaran Bahasa Inggris. Maklum di kampungnya masih jarang lembaga kursus bahasa Inggris.
       Sedangkan Abang Kiki keponakan berdarah Jambi dan Jawa, saat ini harus beradaptasi dengan lingkungannya yang baru di Bengkulu. Tapi yang membanggakan walaupun masih terbilang baru di sekolahnya, Abang Kiki bisa membuktikan bahwa ia mampu mendapatkan ranking di sekolah barunya. Abang Kiki sangat hobi main sepak bola, sampai-sampai ia pernah masuk rumah sakit karena terlalu rajin latihan sepak bola.
       Rehan dan Kiki adalah anak pertama dari dua bersaudara. Masing-masing memiliki seorang adik perempuan. Rehan yang sangat pemalu tapi sebenarnya punya banyak sekali pertanyaan terpaksa memendam pertanyaannya tersebut sampai akhirnya ditanyakan lewat sms. Sedangkan Kiki yang berani menanyakan hal sekecil apapun yang menimbulkan pertanyaan di benaknya. Ia tidak akan berhenti bertanya sampai ia puas dengan jawaban yang diberikan. Rehan punya telinga caplang sedangkan Kiki ukuran kepalanya besar.
       Keduanya dididik dengan cara yang "kejam" dalam artian positif oleh Ibu mereka masing-masing. Ya jika dilihat hampir mirip cara Ibu saya dulu mendidik anak-anaknya apalagi jika berbau akademik. Ibu saya bisa menjadi seseorang yang sangat menakutkan kalo sudah turun tangan soal mengajari kami. Ibu mereka juga sering menyampaikan kalimat seperti ini "Ya semoga bisa kaya Mbak Hera" dalam berbagai kesempatan pertemuan dan telepon. Kalimat tersebut terkadang sering dijadikan sebuah tanggung jawab bagaimana saya harus dapat menjadi contoh yang baik buat para keponakan dan sepupu-sepupu yang masih kecil-kecil. Kalimat diatas juga sering saya jadikan sebagai motivasi diri untuk terus memperbaiki dan mengembangan kemampuan diri. Saya sangat yakin bahwa mereka bisa sangat lebih baik dari saya, karena saya sendiri masih merasa banyak hal yang kurang dalam diri ini.

When I'm being Nerdy

I'm Superhera

       Sejujurnya saya ini bukanlah penikmat buku like nerd. But I don't know exactly why I'm being happy when I have new book at this moment. Dari kecil, orangtua memang tidak membiasakan untuk membaca buku. Namun lebih sering mengajak untuk menyaksikan berita-berita di TVRI. Dulu sih baca buku hanya saat menjelang ujian atau saat ada PR dari sekolah. Alasan inilah yang sering digunakan Bapak saat mengunjungi toko buku. Ketika saya ingin sekali dibelikan sebuah buku, maka Bapak akan membuat sebuah perjanjian dengan syarat-syarat kepada saya saat itu. Bahwa buku yang nantinya akan dibeli harus digunakan dengan baik dan bla bla bla (kecuali buku sekolah).
      Kebiasaan ini berlanjut hingga saya memasuki fase sekolah menengah atas. Nah disini persisnya saya baru menyakini bahwa buku/majalah/apapun yang bisa dibaca dan dijadikan sumber informasi benar-benar jendela sekaligus pintu dunia. Di SMA, saya baru menemukan teman-teman yang sangat freak dan sampai kecanduan membaca, even bacaannya adalah komik, majalah, novel, koran, buku pelajaran dan lain-lainnya. Saya melihat mereka memiliki karakter dan aura yang luar biasa terlebih ketika mereka bercerita tentang bacaannya. Teman-teman penikmat komik akan jauh lebih memahami anime serta budaya Jepang dan hafal tokoh-tokoh komik yang mereka baca. Hebatnya lagi dengan hanya membaca mereka bisa dapat mendeskripsikan kegantengan/kecantikan serta kelebihan tokoh di dalam komik. Menurut saya ini luar biasa, karena saya berfikir bahwa bukankah gambar tokoh di dalam komik itu terlihat hampir serupa. 
       Berbeda dengan teman-teman yang langganan majalah Gadis, Gaul, W, Gogirl dan majalah remaja lainnya. Mereka para sang pemerhati style dan pengikut perkembangan tren fashion utamanya akan terlihat sangat mumpuni dalam menceritakan style fashion terbaru lengkap dengan tren make up ataupun hal-hal yang terbaru termasuk kehidupan artis dalam dan luar negeri. Mereka dapat menceritakan idola mereka atau memunculkan idola baru dari sekedar membaca majalah. Wajar penikmat bacaan majalah akan terlihat lebih cantik karena mereka biasanya sangat memperhatikan penampilan mengikuti tren. Adalagi lewat majalah, beberapa teman mencoba untuk mengikuti ajang kecantikan yang digelar oleh majalah tersebut.
      Selanjutnya penikmat novel, teenlit, atau chiclit, mereka akan beberepa tingkat lebih memahami permasalahan terutama kehidupan kawula muda. Saya memperhatikan teman-teman golongan bacaan ini akan terlihat dan tampil lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Seolah-olah mereka sudah berpengalaman dalam urusan kehidupan kawula muda. Mereka akan sangat paham soal alur cerita dan menilai apakah sebuah novel tersebut bagus atau tidak. Mereka akan sangat tahu para pengarang novel yang kompeten dan membuat cerita bagus. Dan akan terus memburu novel-novel karya pengarangnya tersebut. Golongan bacaan ini terlihat lebih cool/melankolis.
          Kemudian para penikmat bacaan koran. Golongan bacaan ini sempat mensetting image yang kurang baik di mata saya haha. Entahlah, saya dulu menyimpulkan bahwa teman-teman yang gemar membaca koran memiliki idealisme yang sangat kuat dan terkesan otoriter. Emosi mereka terkadang bisa meledak-ledak. Dulu sih saya berfikirnya mungkin karena pandangan mereka terhadap pemerintah yang tidak sejalan. Dibalik pandangan negatif tadi tentu saja golongan ini punya banyak image positif yang terbangun. Golongan bacaan ini memiliki rasa patriotisme yang tinggi terhadap negara. Mereka lebih vocal dalam berpendapat di berbagai forum. Mereka terkadang memiliki pandangan tersendiri yang lebih baik dibandingkan dengan pandangan pelajar pada umumnya. Dulu saya sempat beranggapan bahwa golongan bacaan ini minimal akan menempati posisi legislatif/kepartaian.
       Yang terakhir yang saya komentari adalah golongan bacaan buku pelajaran. Luar biasanya dari luar biasa mah kalo golongan yang satu ini. Menurut saya, mereka yang di golongan ini layak menjadi teladan bagi pelajar lainnya. Secara kewajiban siswa/pelajar adalah belajar. Pernah bertanya dalam hati, apa sih rasanya menjadikan membaca buku pelajaran sebagai hobi. Ternyata menurut mereka, nikmat sekali menjadikan kebiasaan satu ini sebagai hobi. Ibaratnya nih siang bolong kita sedang haus-hausnya terus minum es. Mereka-mereka yang termasuk golongan ini biasanya akan terlebih dulu memahami pelajaran untuk minggu dari pelajar lainnya, lebih maju beberapa langkah. Prestasi tentu yang mereka dapatkan, ya minimal diikutsertakan di Olympiade Science. Mereka ini adalah orang-orang yang haus akan ilmu. Golongan bacaan ini tampak lebih serius dan kaku, susah diajak bercandaan. Banyak juga yang pelit ilmu haha (curhat). Saya dulu menduga golongan bacaan ini akan jadi ilmuwan/pengajar.
       Dari semua golongan bacaan diatas, semuanya sudah pernah saya coba. Tidak bertahan lama. Saya adalah tipe manusia yang cukup mudah merasa bosan. Tapi sekalinya suka maka saya menjadi seorang yang sangat setia (merendah untuk meroket). Merasa iri dengan meraka, jelas. Saya sangat merasa rugi, kudet, katro dan sebangsanyalah. Sempat merasa ada yang salah dalam diri saya, mengapa cepat sekali bosan dengan jenis-jenis bacaan itu. Jadi member di taman baca untuk dapet kartu member keren dan biaya sewa murah, hanya bertahan beberapa bulan saja. Sempat rutin beli majalah di abang loper koran deket tempat les juga pernah saya geluti. Sampai si abang suka ngingetin kalo edisi terbaru majalah yang suka dibeli terbit. Jadi anggota perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah juga saya jalani. Walaupun entah kapan dapat menyempatkan datang ke perpustakaan daerah. Masuk perpustakaan sekolah juga paling banter pinjem buku bank soal biologi terbitan erlangga warna merah. Itupun kalo stoknya lagi banyak di perpus.
       Tidak berhenti sampai disitu, saat memasuki dunia perguruan tinggi saya meyakinkan diri untuk tetap berusaha memunculkan budaya gemar membaca. Saya harus berubah, mengingat saya harus berjuang di tempat rantau. Diawali dari asrama, disini saya juga menemukan teman-teman yang hobi membaca. Diam-diam saya perhatikan dan mencari tau alasan mereka sangat gemar membaca. Mereka mengutarakan alasannya masing-masing. Nah pertama kali dapet kiriman dari orangtua maka saya bertekad untuk menyisihkan uang demi membeli sebuah buku baru. Buku pertama yang saya beli semasa di asrama adalah buku motivasi "From zero to hero" (saya lupa pengarangnya) dan Al Masurat. Hampir setiap bulan koleksi buku pun bertambah. Belum lagi teman-teman asrama yang tidak segan meminjamkan bukunya. Subhanallah deh, ternyata membaca sedikit demi sedikit menjadi kebutuhan tentunya untuk saya sendiri. Saya rela menggunakan uang jajan saya demi membeli buku-buku yang saya inginkan. Kalo ke toko buku nih saya bisa-bisa lupa waktu dan lupa dompet (jeleknya sih ini) hahaha. 
       Sekarang hampir semua jenis bacaan saya suka, termasuk blog, artikel di internet, selebaran dan apapun yang bisa dijadikan sumber informasi serta menambah pengetahuan. Dengan membaca buku maka kita sebenarnya sudah menjelajahi dunia. Bagi saya buku adalah kuncinya dunia. Saat ini saya sedang memahami buku yang Subhanallah, tidak dapat dijelaskan dan dibandingkan keagungannya dengan buku mana pun. Al Qur'an. Tidak hanya membaca Suratnya namun cobalah untuk memahami arti/makna dari surat-surat Allah SWT. Semua yang ada di dunia ini sudah dijelaskan oleh Allah SWT di dalam Al Quran. Sekian.

6.23.2013

F.A.M.I.L.Y

“What can you do to promote world peace? Go home and love your family.” ― Mother Teresa

Playlist of The Week

Hidup tanpa musik ibarat makan ketika sariawan. Nah berikut lagu-lagu yang sering diputerin dalam seminggu ini di playlist handphone. Semoga bisa menentramkan telinga dan hati Anda.
1. Highway Don't Care by Tim Mc Graw feat Taylor Swift and Keith Urban
2. All About Us by He is We feat Owl City
3. Comeback When You Hear This Song  by 2PM
4. Apakah Ku Jatuh Cinta by Sherina Munaf and Vidi Aldiano
5. Invisible by Clay Aiken
6. Small Bump by Ed Sheeran
7. When Can I See You Again  by Owl City
8. Dear My Family by SM Town
9. Manja by Ada Band
10. Marry Your Daughter by Mc Knight

6.22.2013

Weekend list to do

          Sabtu (22062013), hari ini mother country Jakarta merayakan hari jadinya yang ke 486 tahun, harapan yang terbaik untuk megacity yang satu ini. Hari ini juga jadi bestday untuk salah satu muslimah cantik kebanggaan universitas saya, Arifah Qurratu Aina. Happy 22nd yo my besties Quro, wish you nothing but the best.
            Berbicara soal weekend, weekend jadi hari istimewa buat saya. Selain nggak ada aktivitas rutin di kampus, Sabtu dan Minggu biasanya saya gunakan untuk olahraga. Ya walaupun cuma lari keliling lapangan gym kampus yang itupun cuma bertahan 2-3 keliling doang. I feel fresh after beauty running hahaha. Sabtu dan Minggu jadi hari dimana saya bisa makan bubur Madura, nasi uduk ternikmat sekeliling kampus, dan bandros kelapa depan alfamart di Bara. Sabtu dan Minggu adalah hari dimana saya bisa nonton Mozaik Islam di Trans TV dan kartun abadi Doraemon di RCTI. Sabtu dan Minggu adalah hari dimana to do list harus dilaksanakan seperti mencuci rutinan, ngepel lantai dan beberes demi menjadi ibu rumah tangga yang super nantinya hahaha.
        Jadilah weekend kali ini saya gunakan untuk latihan menjadi super mama. Saya mulai dengan mengeluarkan beberapa barang-barang dari secret storage yang letaknya di bawah ranjang. Selanjutnya gagang sapu dan gagang pel mengambil alih untuk membasmi segala jenis atom yang menempel di atas lantai. Dua sampai empat kali bertugas jadilah kamar yang sempit ini terlihat rapih dan bersih. 
           Hari ini ada tugas tambahan yakni memeriksa ujian mahasiswa Diploma PK Kelapa Sawit. Tapi belum saya beresin juga sebenernya. Mungkin last weekend besok bakal diisi dengan ngoreksi ujian mereka nampaknya. 
Food Storage
Wish list, Agenda
Equipment storage
Busy Table
Dream Wall
Mini Library
Full Image
Comfort Zone

6.20.2013

Random

I remember about our childhood. Lemme going back to the past. Sure, I miss my old friends. I miss all the things that we shared each other. I miss playing around home. If we have chance to meet again I will say "how I miss you guys".

Bogor, 20062013

6.19.2013

Sudah Tua

          Yah sudah tua. Dua kata itu yang terlintas ketika saya tiba di dalam forum organisasi mahasiswa daerah saya. Kemarin di sore hari yang bersahabat, Omda saya mengadakan pertemuan perdana dengan para maba angkatan 50. Saya menyempatkan hadir disana. Ada perasaan bahagia sekaligus bangga melihat antusiasme para mahasiswa angkatan 40an menyambut senyum dan pertanyaan para maba. 
           Pertemuan kemarin menerbangkan memory saya ketika pertama kali menginjakan kaki di kampus ini. Suka cita dan perasaan takut menyelimuti saya yang kala itu tidak mengenal siapapun kecuali teman satu SMA (Hafizh dan Vininta) dan orangtua saya tentunya. Minder melihat teman-teman maba yang lain disambut serta didampingi para senior mereka. Membayangkan ada gerumulan mahasiswa yang mengacungkan papan bertuliskan Palembang, Sumsel atau bahkan ada yang meneriakan dua kata itu. Tapi itu hanya harapan, nyatanya yang saya lihat adalah papan Jawa Barat, Jawa Timur dan Minang. Bapak saya juga ikut mencari papan bertuliskan asal daerah saya, tapi hasilnya nihil. Hingga kami berpisah di depan GWW karena orangtua diwajibkan menghadiri pertemuan orangtua di Gymnasium.
        Di depan GWW para maba disambut oleh para Resimen Mahasiswa yang saya pikir dulu adalah petugas keamanan kampus. Pakaian dan sepatu diperiksa. Untungnya saya tidak kena cekal. Lalu saya diberi pita berwarna orange yang menandakan bahwa saya di tribun Fakultas Ekonomi dan Manajemen (pitanya masih disimpen). Saya duduk di TE dan teman maba yang saya ajak kenalan pertama kali adalah mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi bernama Rizky. Hah ternyata saya baru tau kalo si Rizky ini juga berasal dari Palembang di pertemuan perdana Ikamusi di PoMi.
          Singkat cerita, setelah dari GWW saya dan para maba yang lain dituntun menuju stand Omda. Dari kejauhan baru terlihat ada banyak mahasiswa yang mengenakan kaos merah mentereng dan mengangkat papan Sumsel. Lega rasanya ternyata bertemu juga dengan mahasiswa sedaerah. Digiring ke stand dan disuruh mengisi daftar hadir. Disini saya sempat ditertawakan oleh beberapa kakak senior karena saya menuliskan mayor Agribisnis FEMA (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) haha. Malu sih gara-gara sok tau. 
Ikamusi 49 sedang memperkenalkan diri
          Berbeda dengan dahulu, saya pikir penyambutan adik-adik Ikamusi 50 sekarang sudah lebih baik. Semua peraturan dan step-step registrasi maba dijelaskan sebelum hari H juga dengan mekanisme seleksi Beasiswa Bidik Misi. Semoga informasinya bermanfaat. Selamat datang mutiara nusantara, Selamat datang keluarga Ikamusi IPB 50.

6.17.2013

Si Malang Kini Disayang


Punya hewan peliharaan sangatlah menyenangkan. Keluarga kami sebetulnya punya beberapa hewan ternak dan peliharaan, mulai dari ayam, burung, burung dara, burung beo, burung podang, burung parkit, bebek, ayam broiler, ayam kampung, kelinci, marmut, hamster, dan yang terakhir kucing. Tentu saja kucing punya sejarah dan cerita yang beragam bagi keluarga kami. Hingga saat ini entah berapa banyak kucing yang lahir, dibesarkan, yang dipindahkan ke pasar, mati atau sekedar numpang makan di rumah. Dugaan saya mungkin bisa mencapai 100 ekor sejak keluarga kami menghuni rumah disana haha.
Kebetulan semua anggota keluarga mulai dari orangtuanya dan saudara-saudaranya orangtua saya gemar memelihara kucing. Nama-nama kucing kami pun sangat populer hingga hampir semua tetangga kenal dengan sebutan akrab kucing-kucing kami. Mulai dari nama-nama keren hingga nama-nama jelata yang entah apa maknanya (Dolfo, Dolfi, Ongky, Alex, Sanders, Abul, Gibul, Mamak, Ayuk, Adek, Sancai, Cemong dan masih banyak yang saya lupa).
Kali ini saya akan menceritakan salah satu kucing yang termasuk kesayangan seluruh anggota keluarga. Nama panggilannya Ayuk. Ayuk ini kucing betina yang dilahirkan dari seorang Ibu kucing yang tidak bertanggung jawab. Setelah lahir ke dunia ini, Ayuk tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari sang Ibunda. Ibunya malah sering main ketimbang menyusui anak bayinya. Jadilah Ayuk seekor anak kucing yang kekurangan gizi dan kasih sayang.
Kondisi ayuk saat bayi, balita hingga menjelang remaja sangatlah memprihatinkan, Ayuk terkena serangan flu yang begitu dahsyat hingga remaja. Ayuk bayi sangatlah kotor, hidungnya hitam, sering bersin dan sering dilarang masuk ke dalam rumah karena takut virus flunya menyebar ke rumah. Tapi semua itu jauh berbeda saat sakitnya perlahan-lahan membaik. Ayuk berubah menjadi kucing remaja yang lincah, bersih, cantik dan membuat orang-orang yang melihatnya terpesona ingin mengelusnya.
Ayuk kini menjadi kucing rumahan yang penurut dan sangat jarang keluar rumah karena sering mendapat teror dari kucing jantan di sekitar rumah. Ayuk memilih untuk merawat adik semata wayangnya yang nasibnya hampir sama dengannya dulu. Adiknya juga ditinggalkan Ibu mereka dan terkena serangan flu yang tidak sedahsyat Ayuk dulu.
Ayuk lagi males-malesan difoto

Ayuk dengan adik laki-lakinya


     
*Sorry tulisannya berantakan

6.10.2013

Duo JJ

Hai... Hai... (ganjil lebih baik) Hai...

         Kemarin secara spontan saya mengedit beberapa gambar yang diambil dari Om Google. Awalnya memang hanya iseng belaka mencari kata kunci Duo JJ. Duo JJ saya gunakan sebagai istilah negara yang sangat ingin saya kunjungi terlebih dapat menimba ilmu disana.
        J yang pertama adalah Jerman. Yap, kenapa Jerman? Entahlah yang pasti keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah di negara ini tercetus sejak saya duduk di bangku SMA. Dulu guru Bahasa Jerman saya (Bu Litjeria Saragih) sering memberikan motivasi atau sekedar bercerita tentang pengalamannya sewaktu tinggal di negeri Hitler ini. Ada satu yang menarik perhatian saya dan hingga saat ini masih teringat lekat di benak saya, Bu Lintje mengatakan bahwa orang Indonesia yang sekolah di Jerman biayanya gratis, orang yang melahirkan malah dikasih uang dan masih banyak lagi cerita yang beliau sampaikan. Terkadang cerita beliau ini membuai angan-angan saya, membayangkan kalau seandainya saya sedang berada di Jerman.  
          Harapan untuk bisa ke Jerman tetap berkobar dalam jiwa hingga saya lulus dari S1. Saat masih duduk di tingkat dua, saya baru mengetahui bahwa Universitas saya bekerjasama dengan beberapa Universitas luar negeri (program Double Degree/Join Degree). Salah satunya Jerman. Ya, yang lebih membahagiakan lagi adalah Departemen saya (jurusan yang saya ambil) ternyata salah satu Departemen yang menjalin kerjasama tersebut. Goottingen. Kata itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi teman-teman satu jurusan. Mengetahui bahwa banyak senior yang saya kenal mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 nya di Goottingen, maka rasa penasaran terhadap negara itu semakin membara. Saya masih menunggu kapan giliran saya.
Gambar Universitas di Jerman
Edited by Superhera

Japan
Edited by Superhera
        J yang kedua adalah Jepang. Inspirasi untuk dapat menghirup udara negeri sakura ini lahir dari kegemaran saya terhadap budaya/seni melipat kertasnya. Ditambah dengan budaya Jepang yang masih bertahan hingga saat ini. Ada banyak sekali alasan mengapa saya sangat ingin ke Jepang. Yap, mulai dari budayanya, bahasanya yang unik menurut saya, animasi, drama, sakura, teknologi, pertanian, hingga stationery dan masih banyak lagi, speechless!!
          Mimpi ini masih tersimpan rapi dalam diri saya menunggu kapan saatnya menjadi nyata. Ya semoga ada kesempatan yang datang entah dalam bentuk apapun itu yang dapat membawa langkah saya dan menapakkan kaki di bumi salah Duo JJ. Berusaha dan Berdoa.

Nb: kekaguman terhadap JJ tidak menghilangkan kekaguman saya pada negeri sendiri, hingga saat ini masih banyak sekali detail Indonesia yang masih belum tereksplorasi oleh saya. Eksplorasi ini sangat sering membuat saya tidak berhenti berdecak kagum dan sungguh sangat merasa udik jika baru mengetahui detail keindahan budaya bangsa sendiri, Indonesia.

6.09.2013

Feels like Home (Town)

Hampir lima tahun belakangan ini saya menjalankan kehidupan di Kota Hujan, Bogor. Jadi anak rantau, so what gitu lho. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama jauh dari keluarga dan rumah. Banyak sekali moments di lingkungan rumah yang harus dilewatkan. Tak terkecuali kebiasaan makan makanan khas Kota Palembang. Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia, memiliki ragam budaya dan sejarah yang sangat terkenal hingga mancanegara. Belum lagi makanan-makanan khas Palembang yang tersohor hampir di seluruh Indonesia. 
Nah rupanya penyakit rindu makanan khas kota pempek ini menjangkiti saya dan rekan sesama perantau asal Sumatera Selatan. Oleh sebab itu, Sabtu (8 Juni 2013) kami mengunjungi salah satu restoran/cafe yang menghidangkan menu makanan khas Palembang terlengkap yang ada di Bogor. Namanya Pondok Bahrein yang letaknya di Jln. Achmad Adnawijaya No. 02 Warung Jambu, Bogor (tidak jauh dari lampu merah jambu dua). Cafe ini sudah lama berdiri dan pemiliknya asli Wong Kito, Bapak Kemas Mustafa (kalau tidak salah). 

Desain cafe ini cukup menarik. Ada banyak ornamen bergaya ukiran/pahatan Palembang. Pondokannya pun di buat layaknya pondokan yang bergaya Palembang. Lengkap dengan pahatan bentuk bunga teratai yang dicat warna emas. Disini hanya terdapat tiga pondokan yang namanya diambil dari beberapa nama Kabupaten di Sumatera Selatan seperti Sekayu, Batu Raja dan Prabumulih. Tepat di depan pondokan Baru Raja terdapat rumah panggung layaknya rumah adat Sumatera Selatan (Rumah Limas). Rumah ini dijadikan sebagai mushala dan di dalamnya terdapat lemari ukiran Palembang dengan berbagai macam ukuran dan bentuk. Berikut beberapa gambar yang berhasil saya himpun bersama Canonina.

                       
                       
                                  

Mari beranjak ke menu-menu kudapan. Pondok Bahrein menyediakan banyak menu makanan khas Palembang, mulai dari minuman, makan berat, makanan kering hingga kue tradisional. Spesial pempek mulai dari pempek lenjer, telur, adaan, keriting, pempek panggang, kapal selam dan lenggang. Aneka Minuman yaitu Es Kacang Merah dan Es Kacang Merah Spesial. Untuk makanan berat disediakan menu pindang, ada pindang patin dan pindang daging.
                  

    
                         
     

Ket: 1. kerupuk, 2. model, 3. es kacang merah, 4. pindang patin asam manis, 5. pindang patin tempoyak, 6. srikayo ijo

Soal harga jangan khawatir, harga kudapan disini relatif masih terjangkau kisaran Rp. 5000 - Rp. 50.000 per porsi. Tapi yang pasti harga sesuai dengan kepuasan dari makanan serta suasana yang diberikan oleh Pondok Bahrein. Yang sakit karena rindu makanan Palembang dijamin akan langsung sembuh jika mencoba makanan di Pondok Bahrein. Soal rasa jangan ditanya, rasa masakan disini tidak kalah "lemak" dengan di tempat aslinya.


Berikut saya perkenalkan partners in crime atau sebut saja pemburu pindang patin, Ika (jilbab biru), Ririn (jilbab hijau), Kak Iftor (Tshirt kuning) dan saya.

6.05.2013

Ala Anak Kost

Hey there! Now I wanna share about my food creativity. Yeah this week I have felt so bored with Bara and Campus menu. So, I decided to make some food myself. I went to Agro Lestari two days ago, I bougt some of vegetables such as sweet corn, garlic, mustard green, sausage, celery etc. At first, I just plan to boil the mustard green with garlic only. Then, I found a pack of cornet in refrigerator. This is good I think. Suddenly, I changed my idea and decided to cook "Beef Sweet Corn". I didn't put salt and msg to my food. Yes, I must get used for this habit to decrease salt consumption. When the food was ready I tasted it and it's not bad. Oh ya, I'm forget about I also added mayonaisse on the top. 

"Beef Sweet Corn"

For the second one, I haven't gave the name of the food yet. I cooked it last morning. I just boiled the mustard green, egg and strew it with celery. The taste was a bit weird because celery scent is very strong. But I still enjoy this one with chili sause. 

"I don't have name yet"

For this one, I cooked it at Thursday. We call it "Tempe Orak-Arik". For making it is really simple. We need tempe, anchovies, green chili, garlic, and onion. Once again I didn't use any kind of condiments. I purposely made this one longing for home cooking. Eventhough I was not able to make as good as my mother made but I think this is more palatable. Hahaha. Sorry Ibu. I actually really miss home cooking and Ibu. I hope when I return home later, my Mom cooks it for me.

"Orak-Arik Tempe with Anchovy"

6.04.2013

Apa Cita-Citamu? (Part 1)

Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit. Sehingga saat kamu terjatuh, maka kamu terjatuh di pangkuan bintang-bintang. -Soekarno-
Tentu tidak asing bagi kita dengan peribahasa di atas. Peribahasa yang dulu hampir selalu ada pada sampul buku tulis sekolah. Kata-katanya bak menghipnotis saya untuk selalu menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Namun, guru SD saya kala itu mengoreksi kata "gantungkan" tersebut. Beliau mengatakan bahwa kurang tepat menggunakan kata tersebut karena mimpi/cita-cita jangan atau tidak cukup hanya digantung saja melainkan harus diraih dan diwujudkan. Maka sejak saat itu saya menanamkan pada diri saya untuk mengejar mimpi hingga ke bintang-bintang disana yang entah bagaimana caranya berlari sampai ke bintang (pikiran anak SD). 
Berbicara soal cita-cita, cita-cita pertama saya adalah menjadi Insinyur Pertanian. Entah bagaimana asal usulnya, yang jelas dulu saya sangat antusias menyaksikan berita-berita di televisi (saat itu baru ada TVRI, TPI, SCTV dan RCTI) terutama berita-berita pertanian. Ada satu acara yang saat itu disiarkan di TVRI yang menampilkan betapa luar biasanya negeri ini dengan segala macam sumberdaya yang melimpah di dalamnya. Pada acara tersebut ditampilkan pula kejayaan Indonesia di bidang pertanian dengan suksesnya program Revolusi Hijau yang mengantarkan Indonesia pada swasembada beras. Disana ditampilkan sosok Presiden RI pada kala itu serta para Insinyur-Insinyur Pertanian yang sangat sering diwawancarai. Saya melihat betapa bangga rasanya menjadi Insinyur seperti mereka berjasa, masuk TV dan bisa bersalaman dengan Presiden. Lantas sejak saat itu jika ditanya oleh guru di sekolah "apa cita-citamu?" saya selalu mantap menjawab ingin jadi Insinyur. 
Mbah Kakung dan Mbah Putri (Mbah: Kakek dan Nenek dalam bahasa Jawa), orangtua dari ayah saya adalah petani. Sejak kecil saya sering ikut ke sawah/kebun mereka. Hari Minggu atau liburan sekolah adalah hari yang ditunggu-tunggu karena biasanya pada hari itu keluarga kami berkunjung ke rumah Si Mbah.  Selalu ada kenikmatan tersendiri ketika bermain, makan, memancing bahkan mandi di sawah. Suasana disana tidak ada tandingannya bagi saya. Bunyi semilir angin yang menyentuh helai padi dan pepohonan, bau tanah dan rerumputan masih sangat jelas terasa dalam benak saya saat ini. 
Dari sawah dan berbagai tumbuhan yang ditaman oleh si Mbah menambah motivasi saya untuk terus menanamkan mimpi menjadi seorang Insinyur. Saya yang kala itu masih duduk di bangku kelas 1 SD sudah mengkhayalkan kelak saya akan mengembangkan sawah milik si Mbah dan akan diliput juga diwawancarai  seperti Insinyur-Insinyur yang saya lihat di TV (suatu pikiran yang konyol mungkin). Tapi itulah mimpi, itulah cita-cita anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Banyak yang mengatakan cita-cita anak-anak selalu berubah (belum stable), tidak terkecuali saya. Will be continued...

Pesan Anies Baswedan

Halo blogger mania. Hari ini ada sesuatu yang menarik saat membuka home Facebook. Ada salah satu postingan mengenai isi pidato Rektor Paramadina, Bapak Anies Baswedan. Saya mencoba meng-copy-paste dari akun facebook Universitas Paramadina.


Pesan Bp. Anies Baswedan untuk Para Lulusan SMA Indonesia*

Hari ini adik-adik mensyukuri telah lulus SMA. Satu fase telah dilewati. Kita semua terbiasa dengan proses yang sudah tahu ujungnya. Dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, dari SMA ke perguruan tinggi. Pertanyaannya ”Bagaimana setelah kita lulus kuliah?” Pada saat kita lulus kuliah nanti, kita akan memasuki fase baru yang ujungnya terbuka.

Hari ini Anda sekolah masih berdasarkan sistem nilai. Nilai kelulusan Anda menentukan Anda masuk sekolah mana. Adik-adik, saat ini mari kita berpikir untuk memenangkan masa depan bukan sekedar lulus dengan nilai baik. Saya sering mengatakan ini kepada mahasiswa saya, ”IP yang baik hanya akan mengantarkan anda wawancara. Tetapi yang membuat anda diterima adalah leadership skill, karakter dan etos dan itu semua didapatkan tidak di ruang kelas.” Di Universitas Paramadina mahasiswa kami tidak hanya mendapatkan transkrip akademik tetapi juga transkrip non akademik. Transkrip non akademik mencatat kegiatan para mahasiswa dalam berorganisasi. Bagi saya lulus dengan IPK tinggi itu baik, tapi lulus dengan IPK baik plus pengalaman organisasi jauh lebih baik. Bagaimana menentukan lulus dengan IPK baik, caranya lihat syarat pendaftaran IPK minimum untuk mendaftar S2.


Adik-adik akan hidup di dunia baru yang akan berbeda dengan hari ini. Ada satu karakter yang penting yaitu integritas. Karena integritas lebih dari sekedar kejujuran. Saya prihatin dengan Indonesia yang korupsinya merajalela. Yang artinya saat ini rumah kita tidak menghasilkan orang jujur, sekolah kita tidak menghasilkan orang jujur, kampus kita tidak menghasilkan orang jujur. Sudah saatnya kita bersama-sama menegakkan integritas untuk Indonesia yang lebih bersih di masa depan.

Meraih cita-cita itu baik tapi melampaui cita-cita jauh lebih baik. Michael Angelo mengatakan “The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it.” Jangan sampai kita mampu meraih cita-cita tetapi ternyata cita-cita yang kita targetkan untuk capai itu ternyata terlalu rendah.

Adik-adik sekalian, buatlah orangtua bangga, persiapkan diri baik-baik dengan :
1. Memiliki integritas
2. Memiliki kompetensi kelas dunia (world-class competency)
3. Menguasai bahasa internasional

Melalui ketiga hal tersebut maka adik-adik punya tiket untuk masa depan.

Selamat menerbangkan cita-cita dan membekali diri untuk meraihnya!

Anies Baswedan, Ph.D
Rektor Universitas Paramadina

*Disampaikan saat pelepasan SMA di Jakarta

6.03.2013

First Post


Hello guys! Nice to meet you.
This is my first post in my new (renew) blog. Well, actually this is my old blog but I tried to change the view. I just changed the title of blog from I'm Superhera to Feels like home and added some bottons on the right side. Yeah feel like home, I'll tell all of my activities (just the meaningful I think haha) in this one like my habit who always told every particular events to my Mommy. So that, I feel like home.

I hope you enjoy my renew blog. Welcome!!